“Mendengarkan” memiliki makna yang berbeda dengan “mendengar”. Setiap hari kita “mendengar” banyak suara, antara lain suara mesin sepeda motor atau suara musik dari radio tetangga. Mendengar tidak memerlukan niat dan bisa kita lakukan tanpa disengaja. Tetapi “mendengarkan” lebih memfokuskan diri kepada suara yang mau kita dengarkan tersebut. Mendengarkan memerlukan perhatian, dan usaha untuk memahami. Misalnya, mendengarkan anak bercerita tentang pengalamannya di sekolah atau mendengarkan teman yang sedang menceritakan masalahnya. Apakah selama ini kita sering melakukan aktivitas mendengarkan? Apakah kita sudah cukup waktu, kesabaran, dan perhatian untuk mendengarkan pasangan kita, anak kita, teman kita, dan juga mendengarkan firman Tuhan. Bisa saja kita rajin ke gereja, tetapi lebih kepada mendengar saja, tetapi tidak tertarik untuk benar-benar ingin mengerti firman yang sedang diberitakan, apa artinya, dan apa yang sedang Tuhan ingin nyatakan dalam kehidupannya.

Bacaan firman Tuhan dalam Matius 22:1-14 juga berbicara tentang bagaimana seharusnya dalam mendengarkan panggilan atau kehendak Tuhan. Tuhan telah mengundang orang-orang untuk ambil bagian dalam pesta yang telah Tuhan sediakan. Hal itu digambarkan dengan undangan yang disebarkan oleh seorang raja untuk pesta kawin anaknya. Tetapi ketika tiba harinya, mereka yang diundang tidak merespon undangan tersebut. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing, ada yang ke ladang, ada yang sibuk dengan usahanya, bahkan ada yang kemudian berlaku tidak baik terhadap hamba-hamba yang diutus kepada mereka. Sikap orang-orang ini menunjukkan bahwa mereka tidak menghargai raja yang telah mengundangnya. Mereka tidak menganggap ambil bagian dalam pesta itu menjadi hal yang penting dan perlu diutamakan. Mereka lebih mengutamakan pekerjaan mereka sendiri. Namun oleh karena pesta telah disiapkan, akhirnya raja itu memerintahkan agar hamba-hambanya mengundang semua orang yang ada di jalan, siapa saja yang ada boleh datang. Tentu ini adalah kesempatan atau hadiah yang indah. Mereka seharusnya merespon dengan mempersiapkan atau mematut diri agar mereka kedapatan layak untuk bersama raja dalam pesta tersebut.

Perumpamaan tentang perjumuan kawin itu menyatakan bahwa awalnya Kerajaan Sorga telah diundangkan kepada Israel (Orang Yahudi). Tetapi mereka menolak untuk mendengarkan undangan Tuhan. Apa yang mereka lakukan merupakan gambaran sikap hidup yang sering mengutamakan hal-hal duniawi daripada sorgawi. Mereka sibuk dengan perkara yang ada di dunia, hingga mereka kehilangan anugerah untuk ambil bagian dalam pesta sorgawi. Penolakan mereka akhirnya menjadi anugerah bagi semua manusia, untuk merespon undangan dari Tuhan. Kerajaan sorga terbuka bagi semua yang mau mendengarkan Tuhan, tetapi tentu mereka yang menyambutnya harus mematut diri. Keselamatan bukan hanya anugerah tetapi juga tanggung jawab. Mematut diri dengan terus mendengarkan Tuhan yang akan mengubah diri kita semakin layak di hadapan-Nya.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.